Pernyataan Sikap MM Terhadap Kontroversi ‘Allah’ Non muslim di  Malaysia

Oleh: markasmujahidin | Januari 1, 2010

M Jibriel : Aku Kembali Didzolimi!

Beginilah nasib seorang Muslim di negeri yang katanya berpenduduk mayoritas Islam. Diperlakukan tidak manusiawi, didzolimi, dan dianiaya. M Jibriel, pimpinan sekaligus pendiri Ar Rahmah Media harus kembali mengalami hal-hal tersebut. Apakah ummat Islam harus terus berdiam diri dan menerima begitu saja kedzoliman dan perlakuan oknum aparat Densus 88 yang selalu berlindung di balik prosedur standar UU Anti Terorisme?

M Jibriel Didzolimi Lagi

Ini bukan yang pertama. Sejak awal kasus penangkapan M Jibriel kontroversial, juga penuh dengan kedzoliman. Sebagaimana sering diberitakan, pada awalnya M Jibriel ‘diculik’ Densus 88 setelah sebelumnya dijadikan DPO dengan tuduhan terkait terorisme, lalu mendapat penganiayaan berupa pemukulan oleh tim Densus 88, hingga wajahnya lebam-lebam. Hal ini sebenarnya sudah dilaporkan ke Komnas HAM dan pelbagai institusi terkait, namun sebagaimana biasa hal itu berlalu begitu saja, untuk kemudian terjadi lagi. Ironis!

Kini, setelah 4 bulan masa perpanjangan penahanan beliau berakhir dan rencananya kasusnya akan segera dilimpahkan ke kejaksaan untuk disidang, M Jibriel kembali mendapat perlakuan dzolim. Apakah ini memang menjadi cara-cara standar Tim Densus 88 untuk ‘memerangi’ Islam dan kaum Muslimin ?

M Jibriel menceritakan, Rabu, 30 Desember, sekitar jam 2 siang beliau didatangi oleh anggota lapangan Densus 88 yang dengan tergesa memborgol dan memakaikan kaca mata (seperti kaca mata kuda) kepadanya dengan ikatan yang sangat kencang hingga mata beliau memar dan bengkak-bengkak. M Jibriel kemudian meminta kepada para petugas itu untuk sedikit melonggarkan ikatan kaca mata dan memborgol beliau dengan tangan di depan saja, tidak di belakang. Namun, M Jibriel malah dihardik dengan sangat kasar dan tidak manusiawi dengan mengatakan ‘Kamu ini napi jangan macam-macam’.

M Jibriel akhirnya tetap dibawa dengan paksa dengan kondisi yang sangat tidak manusiawi. Padahal, bisa saja M Jibriel dibawa dengan santai, manusiawi, bukankah beliau adalah seorang Muslim yang sangat dihormati dan dihargai kehormatannya oleh mayoritas penduduk negeri ini yang juga Muslim ?

Ummat Hendaknya Peduli

M Jibirel kembali menceritakan bahwa beliau dibawa dalam kondisi tidak manusiawi tersebut dari siang hari hingga malam ke Kejaksaan Jakarta Selatan, untuk pelimpahan berkas. Setiap kali beliau memohon agar diperlakukan manusiawi, maka jawabannya adalah ini sudah prosedur. Apakah memang kedzoliman semacam itu prosedur standar Densus 88 ? Apalagi kasus M Jibriel hingga saat ini belum bisa membuktikan keterlibatan beliau dalam kasus terorisme, kecuali sangkaan dan dugaan yang dibuat-buat ? Mulai dari dugaan sebagai penyandang dana yang akhirnya tidak terbukti, lalu dicari-cari sangkaan baru yakni dianggap menyembunyikan pelaku terorisme, yang juga tidak terbukti. Bisa jadi aktivitas M Jibriel dalam mengelola situs Arrahmah.com yang selalu memberitakan berita dunia Islam dan jihad menjadi incaran orang-orang yang memang memiliki kebencian terhadap Islam dan kaum Muslimin. Wallahu’alam bis showab!

Semoga hal ini bisa menjadi perhatian seluruh ummat Islam dan kaum Muslimin di negeri ini agar jangan sampai kedzoliman dan tindakan tidak manusiawi selalu ditimpakan kepada kaum Muslimin dengan dalih penerapan UU Anti Terorisme dan membiarkan teroris yang sebenarnya (AS, Israel, dan sekutu-sekutunya) membantai kaum Muslimin sepanjang waktu. Insya Allah!

Oleh: markasmujahidin | Oktober 26, 2009

Menyerang Berarti Menantang Perang

Oleh : Irfan Suryahardy

Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

Rontoknya menara kembar WTC dan ambrolnya sebagian gedung Pentagon membuat muka Amerika Serikat merah padam menahan malu sekaligus geram. Usamah bin Laden dan gerakan Islam menjadi sasaran fitnah. Amerika Serikat pun menggalang koalisi guna menghantam Afghanistan. Ini lucu, sebab dilapangan ternyata banyak bukti yang malah menunjukkan indikasi keterlibatan Dinas Rahasia Zionis Israel, Mossad, dalam aksi yang mempermalukan AS itu. “ada sekenario global buatan Yahudi dengan memanfaatkan AS, “tegas Irfan Suryahardy Awwas. Aktifis Islam yang bukunya membangun kekuatan Islam ditengah perselisihan Umat’ diberi kata pengantar oleh Usamah bin Laden ini menegaskan kalau mengebom negeri Muslim Afghanistan sama saja dengan mengebom pemerintahan Islam. “kalau sebuah pemerintahan Islam dibom orang kafir, artinya sudah menantang perang umat Islam dimuka bumi,” tandasnya. Untuk mengetahui pandangannya, wartawan sabili Rivai Hutapea, menemui Ketua lajnah tanfidziyah Majelis Mujahidin dimarkaznya jalan  veteran no.17 Yogyakarta. Berikut petikannya:

Soal tuduhan AS terhadap  Usamah?

Tuduhan itu balasan makar dari Allah SWT. Saya tidak yakin melakukan itu seperti yang dituduhkan AS. saat ini, pemerintah AS sudah menjadi provokator internasional. Ia menggunakan pengaruhnya guna memprovokasi Dunia Barat untuk menyetujui apa yang diinginkan. Saya lihat ada sekenario global yang dibuat Yahudi dengan memanfaatkan AS. Indikasinya, dihari peristiwa itu terjadi, Israel telah melarang 4000 pekerjanya masuk. Setelah itu, FBI juga menangkap lima orang Yahudi tidak lama setelah kejadian itu menunjukkan, Yahudi sangat mengetahui rencana itu. Dari fakta ini, saya berkesimpulan pelakunya adalah Yahudi.

Anda begitu yakin Yahudi adalah pelakunya ?

Karakter orang Yahudi, mereka tak segan-segan membunuhi ratusan ribu orang demi kepentingan politiknya. Untuk tujuan tersebut Yahudi memanfaatkan AS.

Apa kira-kira tujuannya ?

Pertama, bagaiman Yahudi menciptakan musuh bersama. Dan musuh bersama yang diciptakan itu namanya teroris. Teroris yang dimaksud adalah Timur Tengah. Dan Timur Tengah adalah pusat Islam. Artinya Islam adalah agama teroris.

Kedua, Yahudi ingin memanfaatkan kesempatan ini, untuk melemahkan gerakan Islam di Timur Tengah. Salah satu indikasinya ucapan George W Bush, “kalau ingin berdamai, Yasser Arafat harus menghentikan kekerasan.” Padahal yang kerap melakukan kekerasan adalah Israel. Pertanyaanya mengapa yang ditekan adalah Yasser Arafat ?

Ketiga, Yahudi berharap begitu terjadi kasus ini, AS langsung akan mengebom negara-negara yang dianggap musuh Israel seperti Sudan, Palestina. Keempat, Yahudi ingin memberikan tekanan terhadap Negara yang mayoritas Islam, jangan coba-coba membangun kekuatan khilafah Islamiyah lagi.

Lalu kenapa Usamah yang dituduh ?

Usamah pada dasarnya hanya sasaran saja untuk tujuan yang lebih besar. Pertama, Afghanistan, saat ini, merupakan satu-satunya pemerintahan Islam didunia ini dapat dipandang sebagai pelopor tegaknya khilafah Islamiyah. Sejak runtuhnya khilafah Islamiyah tahun 1924, Yahudi dan Nasrani telah bersumpah tidak boleh lagi berdiri khilafah Islamiyah di muka bumi ini. Saya berkeyakinan Yahudi akan mengambil langkah-langkah yang dahsyat lagi untuk menggolkan cita-citanya itu .

Jika ingin menangkap Usamah, kenapa harus mengebom Afghan ?

Sebab kalau Afghanista di bom, maka kekuatan yang ingin memelopori tegaknya Islam itu tidak akan ada lagi. Pertanyaanya, mengapa harus Usamah, sebab misi utama Usmah adalah ingin mengeluarkan orang-orang kafir dan musyrik dari Jazirah arabiyah. Itulah sebab kenapa ia harus dimusuhi di Arab, lalu lari ke Sudan dan Afghanistan. Yahudi sadar betul, kalau tidak ada lagi kekuatan kafir di Jazirah Arabiyah, sudah bisa dibayangkan apa akibatnya.

Apa ada kaitan dengan dukungan pemerintah Pakistan terhadap AS ?

Sekenario global ini juga berusaha menciptakan permusuhan di negara-negara yang berpenduduk Islam, antara rakyat dan pemerintahannya. Contohnya Pakistan, dimana pemerintahannya mendukung AS, tetapi rakyatnya menolak. Dengan alasan ini, pemerintahan Pakistan akan bertindak refresif terhadap rakyatnya. Sebab itu, Umat Islam semestinya bersatu-padu memerangi  imprialisme barat ini.

Apa tindakan kita  jika Afghan benar-benar diserang ?

Kalau memang terjadi, AS telah memgebom pemerintahan Islam. Kalau sebuah pemerintahan Islam  dibom oleh orang kafir, itu artinya, AS sudah menantang perang seluruh umat Islam dimuka bumi ini. Seluruh umat Islam diposisikan diperangi orang kafir. Maka, kewajiban seluruh umat Islam untuk membela saudaranya seagamanya.

Berarti akan ada perang dunia Islam melawan AS dan sekutunya ?

Itu bisa saja terjadi. Tapi saya lihat kasus ini jadi pembenaran ramaran Huntington. Ia mengatakan akan terjadi perang peradaban antara Islam dan barat. Maka, dibuatlah semacam itu  oleh Israel  untuk membenarkan ramalan itu.

Peluang bagi Afghanistan ?

Menurut opososi di Afghanistan Utara pimpinan (alm) Syah mas’ood, katanya, tidak mudah bagi AS menyerang Afghanistan belum pernah dijajah asing. Inggris, uni Soviet dan lainnya pernah gagal menjajah Afghan. Dengan pertolongan Allah, mudah-mudahan AS juga akan menemui kegagalan di afghan.

Faktor lainnya?

Orang-orang Afrghan terkenal pembelaan terhadap Islam. Selain itu, mereka terkenal sebagai orang-orang pemberani. Ketiga, dunia menyaksikan orang-orang Afghan siap menderita dan tak pernah mengeluh dengan penderitaaanya. Inilah bekal yang luar biasa dalam menghadapi negara-negara kafir.

Konteksnya di Indonesia, bagaimana ?

Pertama, umat Islam harus menekan pemerintah agar mengakui pemerintahan Taliban di Indonesia mau mengakui pemerintahan Afghanistan, padahal Indonesia mau mengakui pemerintahan kafir diseluruh dunia.

Kedua, Umat Islam harus menekan pemerintah agar menekan pemerintah agar memihak negara yang dizalimi. Saat ini, Afghanistan dizalimi. AS menuduh seenaknya tanpa bukti, maka pemerintahan yang mayoritas muslim sudah seharusnya berpihak kepada negara yang dizalimi, lebih-lebih sesama Islam.

Ketiga, kalau hal diatas tak juga terpenuhi, maka umat Islam harus membangun kekuatan untuk memperjuangkan dan membela saudaranya yang dizalimi orang-orang kafir.

Bagaimana semestinya sikap umat Islam di Indonesia, kalau terjadi penyerangan ?

Saya kira umat Islam Indonesia sudah saatnya memilih jalan perjuangannya tak melulu dengan jalan dakwah kultural atau lainnya. Tapi, kita mesti harus berani memilih satu jalan lagi yaitu jihad fie sabilillah. Di Indonesia, hal ini mengkin sekali. Pertama, 87 % lebih adalah umat Islam. Kedua, pihak-pihak yang setuju berlakunya syari’at Islam jumlahnya tak sedikit. Ketiga, kekuatan-kekuatan yang ada saat ini, yang setuju berlakunya syari’at Islam baik diparlemen, partai Islam, sudah mestinya memelopori untuk menyerukan jihad fie sabilillah ini dari ancaman kaum kafir. Bagi Majelis Mujahidin, jika Afghanistan diserang oleh pemerintahan kafir, maka mereka berarti telah memposisikan Majelis Mujahidin untuk berperang dengan AS.

Apakah dengan membuka pendaftaran jihad ?

Jika mampu dan ada jalan, kita akan kirim orang-orang ke Afghan. Jika tidak mampu, minimal bantuan sekecil apapun akan kita lakukan.

Muslim minoritas di Barat tengah ditindas dan diteror. Langkah kita ?

Yang kita khawatirkan, fatwa yang pernah keluar dari Usamah dan ulama-ulama Afghanistan beberapa tahun lalu, isinya: orang-orang AS dimanapun dimuka dunia ini musuh Islam. Kalau AS dan Yahudi tak mempertimbangkan fatwa ini dan tak bijaksana, maka orang-orang AS diseluruh dunia akan diburu. Bisa terjadi dimana saja.

Soal dana bantuan AS ke Indonesia karena dukungan Mega ?

Disinilah persoalannya. Begitu rendahnya Negara-negara memandang Indonesia. Untuk suatu dusta publik yang dilakukan AS, dia siap menyuap negara mana saja untuk tidak berkata benar atau menyetujui tindakan yang tak beradab pemerintahannya. Kalau Mega menerima bantuan itu, saya kira hal ini menjatuhkan martabat Bangsa Indonesia. Persoalannya memang selama ini kita begitu mudah disuap dengan bantuan-bantuan material dan kita menutup mata terhadap kezaliman yang dilakukan negara tersebut.

Implikasinya pembicaraan Mega dan Bush terhadap gerakan Islam di Indonesia ?

Pernah dituduh ada usamah di Indonesia, saya khwatir, tuduhan ini dapat digunakan sebagai legitimasi AS untuk menekan Indonesia agar bersikap refresif terhadap gerakan Islam yang ingin menerapkan syari’at Islam di Indonesia. Tak hanya itu, di Malaysia, Filipina dan mungkin negara-negara lainnya. Kalau hal itu dilakukan maka umat Islam di Indonesia tidak akan tinggal diam.

Tindakan kongret jika pemerintahan Megawati benar‑benar menerima dan men­dukung aksi AS?

Pemerintahannya akan berakhir itu sangat mungkin. Kalau ada suatu pemerintahan yang Islam, sudah tak lagi aspiratif terhadap umat Islam, saya kira dia lebih layak untuk diturunkan. Sebab, tidak zamannya lagi aspirasi minoritas mendominasi opini di Indonesia. Selama ini, setiap kali aspirasi mayoritas disampaikan secara konstitusional maupun diluar itu, kerap dianggap sebagai musuh negara atau pemerintah.Saya kira pendekatan seperti ini, tidak zamannya lagi. Umat Islam harus berterus terang dan berani untuk menyarn­paikan kebenaran dan aspirasi yang ia yakini tanpa harus takut‑takut. Pemerintah Indonesia semestinya berpikir mau mendukung AS atau rakyat. Megawati harus sadar betul, di Indonesia mayoritas masyarakat beragarna Islam. ia harus berpikir apakah ia mau mempertahankan kekuasaannya dan membiarkan Indonesia tetap terjerumus ke persoalan politik kembali hanya karena ia mendukung AS terhadap persoalan intemasional yang tidak jelas dasamya, yang tak memiliki bukti konkret atas rencana tindakannya terhadap Usamah dan Afghanistan. Saya kira akan sangat rendah bangsa ini kalau mendukung AS secara membabi buta.

Kalau alasan dana itu untuk memulihkan situasi dalam negeri ?

Tidak ada indikasi yang jelas, kalau mendapat bantuan luar negeri  maka krisis akan kembali pulih. Sebab, pemerintahan sekarang ini, dibangun oleh orang-orang jahat baik ia sebagai koruptor, penjilat dan lainnya.

Anda yakin umat Islam Indonesia akan berpadu dalam hal ini?

Ini juga yang jadi persoalan. Dalam banyak hal kita selalu saja berbeda. Ajaran Islam yang menganjurkan bela‑membela sesama saudara menjadi seakan‑akan tidak aplikatif di Indonesia saat ini. Karena banyaknya perbedaan kepentingan di ormas dan partai‑partai Islam. Saya kira untuk satu hal yaitu kasus Afghanistan ini, sudah seharusnya umat Islam meredam segala macam perbedaan dan satu padu dalam pembelaan terhadap saudara kita di Afghanistan. Mudah-mudahan kasus ini jadi titik awal baqi umat Islam untuk membangun kekuatan bersama.

Bagaimana membangun kekuatan itu di Indonesia?

Mestinya di Indonesia dibangun kekuatan Islam. Karena tidak mungkin kita berjuang tanpa ada kekuasaan dan sendirian. Dengan proses, umat Islam harus berkuasa dan Islam harus menjadi sistem negara, harus dimulai dari sekarang. Yang jelas, umat Islam tidak akan bersatu padu dalam membela kekafiran. Akan selalu ada kekuatan untuk menegakkan kebenaran itu.

Wawancara Majalah Sabili, 10 Oktober 2001/ 22 Rajab 1422

Oleh: markasmujahidin | Oktober 26, 2009

Mengapa Islam Politik Selalu Kalah

GERAKAN MODERAT ISLAM, APA HASILNYA?

Oleh Irfan S. Awwas

Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia

Dalam rangka menegakkan tatanan kehidupan Islami, parpol dan ormas Islam telah menempuh berbagai pola gerakan. Dari pengalaman bertahun-tahun di medan dakwah, pola gerakan umat Islam dapat diidentifikasi antara lain: Pertama, gerakan Islam politik di bawah sistem demokrasi, dengan mendirikan partai Islam untuk bersaing dengan partai sekuler memperebutkan kursi legislatif, dan posisi strategis di kabinet.

Kedua, gerakan radikal yang menempuh jalan konfrontasi untuk merebut kekuasaan dari penguasa sekuler yang menolak syari’at Islam. Ketiga, gerakan dakwah kultural, yaitu membaur ke dalam masyarakat dan sistem kemasyarakatan sambil memperbaikinya melalui penanaman nilai-nilai Islam sejauh dapat diterima masyarakat. Keempat, gerakan pembinaan aqidah, akhlaq, pendidikan, dengan menghindari politik peraktis. Gerakan ini hanya mengedepankan pendekatan akhlaq individual yang dilakukan melalui lembaga pendidikan formal dan non-formal seperti majelis ta’lim, jama’ah zikir serta kursus-kursus keagamaan lainnya. Adapun pola kelima, adalah gerakan uzlah, yaitu menarik diri dari segala corak gerakan di atas, dan hanya ingin menyelamatkan diri sendiri sembari menanamkan nilai-nilai Islam sejauh yang mampu dilakukan.

Setiap gerakan Islam yang memilih salah satu, atau memadukan di antara pola gerakan di atas, tentu saja punya argumentasi masing-masing. Yang jelas, dari sejumlah corak dan pola gerakan yang kini ditempuh kaum muslimin, belum satu pun yang berhasil menghantarkan Islam ke posisi pemenang, sehingga Islam dapat berfungsi, seperti dikatakan Roger Garaudy, Al Islammu hillun wahidun lil mustaqbalil ‘alam (Islam adalah solusi tunggal bagi penyelesaian peroblema dunia kontemporer). Tulisan di bawah ini mencoba menyoroti gerakan moderat Islam yang sering juga disebut gerakan Islam politik, yang dengan bangga mengusung demokrasi dan menolak syari’at Islam. Tapi apa hasilnya?

Gerakan Moderat Islam

Nahdhatul Ulama (NU), sejak zaman Soekarno dulu, sudah berbaik‑baik dengan penguasa. Tidak saja menjadikan Soekarno sebagai waliyul amri ad‑dharuri bisy-syaukah, tetapi juga menerima konsep Nasakom (nasionalisme, agama, komunisme). Hasilnya, pada pemilu 1955, NU sebagai partai politik cuma beda tipis dengan perolehan suara PKI, dan berada di urutan ketiga setelah PNI dan Masyumi.

Di masa Orde Baru, NU pulalah yang memelopori diterimanya asas tunggal pancasila, pada saat ormas dan parpol Islam lainnya masih pikir‑pikir. Hasilnya, ketika ikut Pemilu 1999, partai wong NU (PKB) berada di urutan ketiga, dikalahkan PDI-P dan Golkar. Sedangkan dalam hal perolehan kursi, PKB berada di urutan keempat setelah PPP.

Ketika Megawati mencalonkan kembali sebagai presiden RI, institusi NU sangat keras melawan suara yang mengharamkan presiden wanita. Bahkan, Ketua PBNU Hasyim Muzadi tidak sungkan‑sungkan menjadi cawapres mendampingi Megawati sebagai capres dari PDI‑P. Hasilnya, dikalahkan pasangan SBY‑Kalla dengan margin yang sangat signifikan.

Padahal, ‘pengorbanan’ NU sudah sedemikian besarnya. Dari ulama NU lahir gagasan dekonstruksi syari’ah (menjauhkan syari’ah Islam) dari politik dan institusi negara, bahkan lebih jauh, gagasan ini diintensifkan melalui kerjasamanya dengan kelompok Zionis. Sikap NU yang anti syari’at Islam juga diwujudkan dengan membentuk PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang berasaskan humanisme, sekularisme, dan nasionalisme.

Sebagaimana halnya NU, ormas Muhammadiyah yang selalu bangga menyebut dirinya sebagai gerakan moderat Islam pengawal demokrasi, juga amat besar ‘pengorbanannya’ di kancah politik nasional. Pada masa orde lama, Muhammadiyah memang tidak ikut menyetujui konsep Nasakom, namun pada masa orde baru, Muhammadiyah ikut menerima asas tunggal. Ketika mendapat kesempatan mendirikan partai, Amien Rais mantan Ketua PP Muhammadiyah, mendirikan PAN (Partai Amanat Nasional) yang berasaskan Pancasila. Asas Islam untuk partainya, diibaratkan baju yang kekecilan.

Prof. Dr. M. Amien Rais, MA yang pada masa akhir rezim Soeharto tampil radikal, cerdas dan reformis, bahkan sempat dijuluki fundamentalis Islam, tiba‑tiba muncul sebagai sosok pluralis, modernis, setelah rezim Soeharto tumbang berdebam ke tanah kering. Partai yang dipimpinnya pun tidak berhasil meraup suara dengan angka siginifikan. Pada dua kali Pemilu Legislatif (1999 dan 2004) perolehan PAN di bawah 8 persen (yakni 7 dan 6,5 persen). Padahal, PAN menyatakan sebagai partai terbuka yang tidak terkait dengan politik penegakan syari’at Islam. Artinya, PAN ditinggalkan umat Islam, sementara itu, yang non Islam ogah memilih PAN, tetapi lebih tertarik memilih PDI‑P atau Partai Demokrat.

Meski kalah pemilu legislatif 2004, Amien Rais tidak putus asa, tetap berminat tampil pada bursa pilpres, karena mengandalkan konstituen Muhammadiyah yang konon berjumlah hampir 30 juta. Hasilnya, pasangan Amien‑Siswono cuma berada pada urutan keempat, sehingga tidak lolos putaran kedua.

Amien lebih memilih Siswono mendampinginya maju pada pilpres, karena ia berpendapat, bila berpasangan dengan –katakanlah– Hidayat Nurwahid, ibarat melakukan incest, hubungan sex sedarah yang diharamkan Islam. Padahal, Hidayat Nurwahid ahli syari’ah, dan berasal dari Partai Islam yang perolehan suaranya lebih besar dari PAN pada Pemilu Legislatif 2004.

Meski Amien sudah melakukan klarifikasi atas ucapannya menganalogkan partai berasas Islam sebagai baju yang kekecilan, begitu juga dengan istilah incest, namun hati yang terluka tidak mudah terobati. Umat mencatat, betapa besar ‘pengorbanan’ seorang Amien Rais untuk menggapai kekuasaan eksekutif, ternyata hanya kegagalan yang didapat.

Ahmad Syafi’i Ma’arif, Ketua PP Muhammadiyah pasca Amien Rais, juga ikut berkorban yang demikian besar. la pernah menyatakan berlepas diri dari gerakan politik menegakkan syari’at Islam. Dalam hal penerapan syari’at Islam, visinya sama dan sebangun dengan Cak Nur beserta rombongan JIL.

Mereka berpendirian, “Tidak perlu menyebut‑nyebut syari’ah Islam, yang penting substansinva. Seperti garam, terasa tapi tidak nampak: karena yang terpenting bukan ‘botol dan mereknya’ (formalitas) melainkan ‘isi kecapnya’ (amal Islamnya).” Bahkan ada ucapan yang lebih vulgar: “Jika saya menyetujui formalisasi syari’at Islam, maka sekian persen dari kalangan muslim awam akan keluar dari agama Islam.”

Untuk penegakan syari’at Islam, mereka selalu tergoda menggunakan kerangka berfikir negatif, sementara terhadap demokrasi, ideologi yang tidak punya nabi dan kitab suci, dibela penuh semangat. Mengapa tidak menggunakan kerangka berfikir positif? Misalnya, bila mendukung penerapan syari’at Islam di lembaga negara, Insya Allah orang awam akan kian mantap iman Islam di hatinya.

Apabila menggunakan strategi garam alias munafiqisme politik ternyata kalah juga, mengapa tidak berterus terang saja? Benarlah ucapan Amirul Mukminin Umar Ibnu Khathab ra. yang diriwayatkan dari Ziyad bin Hadzair. la berkata: ‘Umar lbnu Khathab bertanya kepadaku: “Tahukah engkau apa yang menumbangkan Islam?” Kujawab, ‘tidak tahu.’ Kemudian Umar berkata, ‘Islam itu ditumbangkan oleh tiga hal. Yaitu, ketergelinciran seorang alim, orang munafiq membantah kebenaran dengan dalil Al‑Qur’an, dan hukum yang dikeluarkan oleh para pemimpin yang menyesatkan’…” (R. Ad‑Darimi).

Bagaimana dengan PPP, PBB dan PBR yang secara formal mencantumkan asas Islam, namun kalah juga? Jawabannya pun sangat sederhana: Umat Islam sudah semakin cerdas. Mereka sudah bisa membedakan antara botol kecap kosong dengan botol kecap yang ada isinya. Umat Islam kecewa, karena mereka meninggalkan Islam, sambil mengembangkan sikap munafiq. Selain itu, mereka tidak punya program kongkrit yang langsung menyentuh kebutuhan umat.

Pengalaman bertahun‑tahun sudah cukup membuat mata umat terbuka, bahwa selama ini sentimen Islam dieksploitir untuk meraih kekuasaan dan kekayaan, sementara perilaku potitikus (berbendera) Islam itu jauh dari perilaku Islami, baik pribadi si politikus itu sendiri, apalagi anggota keluarganya.

Secara kasat mata, umat sudah bisa menilai: tidak mungkin keseriusan menerapkan syari’ah Islam tampil bersamaan dengan penampilan yang mewah, naik Jaguar, rumah mewah, harta berlimpah sementara mereka menyaksikan wabah kemiskinan menggerogoti kehidupan umatnya.

Penyebab Kekalahan

Islam hadir membawa misi rahmatan lil ‘alamin melalui gerakan reformasi (perubahan) dari kehidupan jahiliyah kepada kehidupan Rabbaniyah, bukan dengan cara mengikuti atau mengadopsi nilai‑nilai jahiliyah. Karenanya, menghendaki kemenangan Islam melalui jalan yang tidak ditunjuki Allah dan Rasul‑Nya, bukanlah akhlak politisi muslim.

Prilaku politik yang menolak formalisasi syari’at Islam di lembaga negara, dan mengunggulkan sistem hidup selain Islam, Al-Qur’an mengkritik mereka dengan amat pedas: ”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Alkitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut (yaitu apa saja yang disembah selain Allah), dan mengatakan kepada orang-orang kafir, bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang-orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.” (Qs. An-Nisa’ 51-52).

Kekalahan terus menerus yang diderita politikus Islam, menurut sebagian pengamat, disebabkan tema politik dengan mengatas‑namakan agama sudah tidak laku. Konstituen parpol Islam tidak lagi taat asas dan otoritas orpol sudah semakin longgar. Tetapi faktanya, PKS yang konsisten mengusung ideologi Islam mampu meraih simpati masyarakat Islam, sehingga mendapat kenaikan suara yang signifikan dibanding tahun 1999.

Namun dalam analisis siyasah syar’iyah, kekalahan terus menerus yang diderita parpol Islam setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, peranan kaum munafik yang ingin sukses meraup kemenangan dengan mengandalkan bantuan orang kafir, tapi meninggalkan orang beriman, sebagaimana firnan Allah: “Informasikan kepada orang‑orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, yaitu orang‑orang yang mengambil orang‑orang kafir menjadi teman penolong dengan meninggalkan orang‑orang mukmin, Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (Qs. 4:1138‑139).

Berkoalisi dengan partai sekuler dan non Islam dengan meninggalkan parpol atau ormas Islam, untuk meraih dukungan merupakan kemunafikan. Munafikisme politik yang diperankan tokoh‑tokoh Islam sama sekali tidak membawa optimisme politik bagi kemenangan umat Islam.

Mengutamakan taktik daripada berterus terang dengan prinsip syari’ah terbukti tidak efektif mencerdaskan umat, bahkan menutup kesempatan untuk meluruskan pemahaman umat dan menghilangkan apriori terhadap syari’at. Sekadar contoh, hasil survei tahunan PPIM UIN Jakarta menemukan fakta, bahwa pada 2001 respondens pro-syari’at hanya 60%. Tahun 2002 meningkat menjadi 71 % dan 2003 menjadi 75%. Namun pada tataran materi syari’at seperti pemberlakuan hudud, yaitu potong tangan, rajam, cambuk, qishas. termasuk poligami, respondens yang setuju di bawah 25%. Artinya, jika kita berpegang pada hasil survei di atas, ada gap antara semangat dan pemahaman syari’at, sehingga perlu dakwah yang jujur tentang syari’at Islam.

Penyebab kedua, karena merasa berat melaksanakan ketetapan Allah untuk menerapkan syari’ah Islam. Sungguh menyedihkan, hambatan formalisasi syari’ah Islam di lembaga negara sering kali datang dari sesama muslim. Sehingga muncul stigma gerakan moderat Islam (mereka yang menolak syari’ah) dan gerakan radikal Islam atau fundamentalis ‑yang berjuang bagi tegaknya syari’at Islam. Padahal Allah telah berfirman: “Tidak ada satu keberatan pun atas diri Nabi tentang apa saja yang telah ditetapkan Allah bagi-Nya.” (Qs. 33:38).

Tapi orang munafiq berkilah, “yang tidak merasa berat untuk mengimplementasikan syari’at secara kaffah ‘kan nabi, kalau kita tidak mungkin.” Orang seperti inilah yang dikatakan di dalam Alqur’an:”Maka demi Rab-mu, pada hakikatnya mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kami berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Qs. 4:65)

Dalam konteks ini, maka keikutsertaan parpol Islam di dalam ekskutif dan legislatif, sebenarnya bukanlah hal yang harus dibanggakan. Persoalannya, mampukah mereka memberikan solusi Qur’ani terhadap berbagai persoalan kemanusiaan, kebangsaan dan eksistensi Indonesia sebagai negara berdaulat. Apabila jalan dakwah dan sikap politik yang ditunjukkan institusi Nahdhiyyin dan Muhammadiyah ternyata gagal meraih kemenangan dalam pemilihan legislative dan pilpres; apakah parpol Islam yang ada di DPR sekarang (PPP, PKS, PBB, PBR) akan meneruskan hal yang sama, yang berarti mendorong gerbong kegagalan? Meneruskan perjalanan gerbong kegagalan, memang lebih mudah daripada melakukan pembaharuan sikap dan merobah orientasi politik. Dengan alasan, tidak selalu kegagalan seseorang akan menimpa orang lain yang menggunakan metode yang sama. Tapi harus diingat, orang yang berakal sehat tidak akan terjerumus pada lobang yang sama untuk kesekian kalinya. Maka, lebih bijaksana apabila mereka mencoba merintis keberanian untuk berterus terang dan jujur dalam membawa missi formalisasi syari’at Islam di pemerintahan negara. Sebagaimana anjuran Allah Swt:” “Maka sampaikanlah olehmu secara terus terang segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari cara atau sistem orang‑orang musyrik,” (Qs. 15:94).

Demikian pula, kemenangan SBY-Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden pilihan rakyat untuk pertama kalinya. Mampukah pemerintahan baru menciptakan rasa aman bagi rakyatnya, misalnya, membebaskan tersangka terorisme seperti Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagaimana dilakukan PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi terhadap lawan politiknya, mantan deputi PM Mahathir Mohammad, yaitu Anwar Ibrahim. Cukup berwibawakah mereka untuk memimpin NKRI dengan tidak mengekor kepentingan asing, tidak hanya bagi-bagi rizki sesama politisi, tidak mengikuti bisikan jahat kaum konglomerat yang telah terbukti membuat Indonesia terpuruk? Dan alangkah baiknya, bila SBY-Kalla berani mencoba memahami ajaran Islam sebagai solusi tunggal mengatasi problema dan dilema global, termasuk Indonesia, dan tidak bersikap sebaliknya, menganggap Islam sebagai sumber masalah.

Jogjakarta, 26 September 2004

Oleh: markasmujahidin | Oktober 26, 2009

Pertahanan Dan Keamanan Rakyat Semesta

PENDAHULUAN

Keberadaan dan kelestarian negara ditentukan oleh banyak faktor. Karena itu suatu pandangan yang salah kalau keberadaan dan kelestarian negara hanya dipandang sebagai urusan lembaga-lembaga kenegaraan dan angkatan bersenjata. Maka untuk mewujudkan keinginan keberadaan dan kelestaian negara diperlukan adanya pemeliharaan unsur-unsumya secara terpadu dan A sampai Z-nya. Untuk itu bagaimana Islam memberikan petunjuk dan pedoman yang termaktub di dalam Al Quran, praktek kehidupan Rasulullah dan para khalifah yang mengikutl jejak beliau. Pada kesempatan ini akan kita bahas unsur-unsur yang dimaksud.

PENGERTIAN

Hankamrata adalah wujud usaba yang sungguh-sungguh untuk memelihara wujud dan  kelestarian negara oleh warganegaranya agar negara tetap tegak menjadi tempat yang aman bagi segenap warganegaranya dan sernua orang yang tinggal di dalamnya. Hankamrata di dalam pengertian semacam hanya dapat tercapai apabila tercipta keterpaduan pemeliharaan semua unsur yang wajib ada di dalamnya.

UNSUR-UNSUR HANKAMRATA DALAM SYARI’AT ISLAM

1. Keadilan Penguasa

2. Kepastian Hukum dan Keadilan-tiya.

3. Pembelaan terhadap golongan lemah.

4. Angkatan perang yang kuat.

5. Aparat dan pegawai yang amanah.

6. Pembinaan keluarga yang kokoh.

7. Membersihkan masyarakat dari segala bentuk hal yang kotor dan keji.

8. Menumbuhkan remaja dan pemuda dengan jiwa ketaatan kepada agama.

9. Pendidikan dan pengajaran untuk seluruh rakyat secara gratis.

10. Menindas orang kuat yang bertindak dholim untuk melindungi yang lemah.

11. Adanya lembaga yang menyelesaikan pengaduan rakyat atas tindakan kedholiman.

12. Jaminan kemerdekaan menyatakan pendapat dan memberantas, kemungkaran.

13. Kebersarnaan penguasa dengan rakyat.

14. Kerjasama antara segenap rakyat

15. Melindungi hak-hak kaum wanita.

16. Lapang dada terhadap perbedaan pendapat dan agama.

17. Penguasa yang taat kepada hukurn dan kebenaran.

18. Kebebasan melakukan kritik yang bertanggungjawab.

19. Larangan terhadap penguasa untuk hidup meNvah.

20. Hubungan bertetangga balk dengan negara lain.

2 1. Menghargai ilmu dan para ulamanya.

22. Memperhatikan dan menjamin kondisi kesehatan ummat.

1. Keadilan Penguasa

Suatu hari Umar naik ke atas mimbar lalu berkata: “Wahai manusia dengarkanlah dan taatilah!” Lalu seorang Arab gunung melakukan interupsi: “Kaml tidak mau mendengar kamu wahai Umar dan kami tidak mau taat” Umar berkata: “Mengapa?” orang Arab gunung berkata: “Setiap orang diantara kamu hanya menerima pembagian satu potong kain. Tetapi engkau mengutamakan dirimu sendiri dengan mengambil dua potong kain (karena Umar orangnya tinggi sehingga tidak cukup satu potong kain). Lalu Umar berkata: “Wahai Abdullah (putra beliau sendiri) jawablah orang itu.” Lalu Abdullah menjawab: “Demi Allah, separo dari potongan kainku, beliau ambil, lalu beliau tambahkan ke potongan kainnya sehingga cukup untuk beliau dan separohnya masih tersisa. Lalu Arab gunung itu berkata: “Sekarang kami mau mendengar kamu wahai Umar. Karena itu silahkan angkat bicara.” Umar tidak mengusik orang ltu karena dia menuntut keadilan. Kernudian orang Arab gunung melihat Umar dengan pakaiannya yang indah. (Sirah Umar bin Khathab oleh Ibnu Hazm)

2. Kepastian Hukum dan keadilannya

Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang sebelum kamu telah binasa karena membiarkan saja kalangan terhorrnat melakukan pencurian. Bila rakyat awam yang melakukan pencurian, barulah mereka menghukumnya dengan potong tangan. Demi Allah yang jiwaku ini ada di tanganNya. Seandainya Fatimah binti Muhammad melakukan pencurian, pastilah kupotong tangannya. (HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasa’i)

3. Pembelaan terhadap golongan lemah

Allah berfirman: “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik pria, wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya zhalim ini. berilah kami perlindungan dari sisi-Mu dan berilah kaml Penolong dari sisi-Mu.” (An-Nisaa: 75)

4. Angkatan Perang yang kuat

Firman Allah: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan Itu) kamu dapat menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (Al-Anfal: 60)

5. Aparat dan pegawai yang amanah

Rasulullah saw bersabda kepada. Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, jabatan itu suatu amanah, dan pada hari kiamat merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan memenuhi haknya, dan melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya dalam  urusan tersebut. (HR Hakim).

Sabdanya pula. “Apabila amanah disia-siakan maka, tunggulah saat kehancuran. Nabi ditanya: “Wahai Rasulullah, apa yang disebut menyia-nyiakannya itu?” Sabdanya: “Bila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka nantikanlah kehancurannya. ” (HR- Bukhari)

6. Pembinaan keluarga yang kokoh

Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata: Ayahku memberiku hadiah lalu ibuku berkata: “Saya tidak ridho sebelum engkau persaksikan pemberian itu kepada Rasulullah.” Lalu ia datang kepada Rasulullah untuk mempersaksikan pernberian ayahku kepadaku. Lalu beliau bertanya (kepada Basyir): “Apakah setiap anakmu engkau beri hadiah seperti ini?” Jawabnya:”Tidak”. Lalu Nabi bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu,” Lalu beliau bersabda lagi: “Aku tidak mau menjadi saksi atas perbuatan dosa.”Kata Nu’man kemudian ayahku mencabut hadiahnya itu.” (HR.Bukhari)

7. Membersihkan masyarakat dari segala bentuk hal yang kotor dan keji

Rasulullah saw bersabda: “Akhlak yang baik akan menghancurkan segala yang buruk sebagaimana air mengbancurkan barang yang keras, sedangkan akhIak yang buruk akan merusak usaha kebajikan seperti cuka merusak madu.” (HR. Baihaqi)

8. Menumbuhkan remaja dan pemuda dengan jiwa ketaatan kepada agama

Rasulullah saw bersabda: “Tuj uh golongan yang mendapat naungan di hari kiamat, saat tidak ada lagi yang dapat memberi naungan kecuali Dia, yaitu penguasa yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah …. (HR.Bukhari dan Muslim)

9. Pendidikan dan pengajaran kepada seluruh rakyat secara gratis

Rasulullah saw bersabda: “Hendakfah kalian belajar Al Quran dan mengajarkannya kepada

manusia.” (HR. Tirmidzi)

10. Menindak orang kuat yang bertindak dholim untuk melindungi yang     lemah

Nabi saw bersabda: “Tolonglah saudaramu, baik yan berbuat dholim maupun yang didholimi.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Menolong yang didholimi kami sudah mengerti. Tetapi bagaimana menolong yang berbuat dholim itu?” Sabdanya: “Engkau cegah ia agar tangannya tidak dholim kepada orang lain.” (HR Bukhari-Muslim)

11. Adanya lembaga yang menyelesaikan pengaduan rakyat atas tindakan kedholiman.

Rasulullah saw bersabda: “Takutlah kalian kepada doa orang-orang yang terdholimi, karena orang yang terdholimi tidak lagi ada sekat antara dirinya dengan Allah.” (HR. Bukhari)

12. Jaminan kemerdekaan menyatakan pendapat dan memberantas kemungkaran.

Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang

ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab

beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan

kebanyakan mereka adalah omng-orang yang fasik. ” (Ali Imran:  10)

13. Kebersamaan penguasa dengan rakyat.

“Tiga hal yang tersembunyi yang merupakan sumber kekuatan bagi kaum. muslimin yaitu:

(diantaranya adalah) sesama orang Islam bersaudara dengan persamaan yang penuh di hadapan Allah, walaupun warna kulit, keturunan dan kedudukan mereka berbeda ………..(Tarikhul Aqidah Islamiyah, hal.245 TW Arnold)

14. Kerjasama antara segenap rakyat.

Rasulullah saw bersabda: “Allah meridloi kaMu pada tiga hal, yaitu: kamu sekalian hanya menyembah kepadaNya, tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, kamu berpegang teguh kepada Allah secara utuh dan tidak bercerai berai dan karnu mau memberi peringatan-peringatan kepada orang yang Allah jadikan penguasa kamu.” (HR.Muslim)

15. Melindungi hak-hak kaum wanita.

Rasulullah saw bersabda: “Manusia yang terbaik adalah orang yang paling baik terhadap istrinya dan keluarganya. Dan aku adalah orang yang terbaik diantara kalian terhadap istri dan keluargaku.” (HR- Abu Daud dan Ibnu Majah)

Rasulullah saw bersabda: “Orang mukram yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik dan lembut perlakuannya kepada istri dan keluarganya.” (HR.Tirmidzi  dan Hakim)

16. Lapang dada terhadap perbedaan pendapat dan agama.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) seagama (Islam): sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena, itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

17. Penguasa yang taat kepada hukum dan kebenaran.

Ibnu Al Jauzi berkata: “Umar dahulu dalam memilih para wakil daerah dan pegawai, selalu berpesan: “Ummat akan senantiasa berlaku lurus selama para pemimpin dan panutan mereka berlaku lurus. Tetapi kalau imam menyeleweng, mereka akan ikut menyeleweng.” (Shirah Umar, hal. 94)

18. Kebebasan melakukan kritik yang bertanggung jawab.

Rasulullah saw bersabda: “Agama itu adalah nasihat. Mereka (para sahabat) bertanya: “Nasihat bagi siapa, wahai Rasuluilah?” Sabdanya: “Bagi Allah, Kitab-kitabNya, Rasul-Nya, bagi para pernimpin urnat dan seluruh umat itu sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)

19. Larangan terhadap penguasa untuk hidup mewah.

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mena’ati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancumya. (Al Isra': 18)

20. Hubungan bertetangga baik dengan negara lain.

Rasulullah saw bersabda: “Demi Allah tidaklah seseorang beriman. Demi Allah tidaklah seseorang beriman. Demi Allah tidaklah seseorang beriman. Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)

21. Menghargai ilmu dan para ulamanya.

Dari Abi Hurairah, la berkata: Rasulullah saw bersabda: “Barangstapa menempuh suatu perialanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (HR.Muslim)

Dari ‘Ubadah bin Sharnith, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: ” Bukanlah termasuk ummatku orang-orang yang tiada mau menghormati tetua kami dan menyayangi brang-orang kami yang kecil serta menghormati orang-orang yang ben’lmu.” (HR. Ahmad dan Thabrani dan disahkan oleh Hakim, tetapi dalam riwayat Hakim dikatakan: Bukanlah dari golongan kami. dst.)

22. Memperhatikan dan menjamin kondisi kesehatan ummat.

Dan Abu Hurairah, Nabi saw bersabda: “Mohonlah ampun kepada Allah, kesehatan han Ini dan kesehatan hari akan datang. Tidaklah seseorang yang memperoleh pemberian lebih baik setelah keimanan daripada kesehatan yang lestari.” (HR. Nasa’i)

Ket: Dengan ampunan dari Allah, hilang dosa masa lalu dan kini, dengan kesehatan masa kini dan masa mendatang, akan lestari ketahanan hidup manusia.

Oleh: markasmujahidin | Oktober 2, 2009

Himbauan Majelis Mujahidin

SELEBARAN sUMBAR

 Kesimpulan Talk Show

“Menyoal Penggunaan Vaksin Berenzim Babi pada Jama’ah Haji Indonesia”

Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 4 Rajab 1430/27 Juni 2009

 

Menimbang :

  1. Vaksin Meningitis Mencevax ACW135Y produksi PT. GlaxoSmithKline Beecham Pharmaceuticals (GSK) dari Belgia yang dipakai oleh Pemerintah Indonesia terbukti seratus persen menggunakan enzim tripsine Babi dalam proses pembuatannya.
  2. Firman Allah Swt pada Qs. Al-Baqarah 2:173 yang menyatakan haramnya Babi, karena itu bagian manapun dari hewan Babi sedikit atau banyak tetap haram untuk dikonsumsi oleh manusia.
  3. Penggunaan vaksin Meningitis yang katalisatornya berasal dari enzim Babi tidak dapat dikategorikan sebagai kondisi darurat sebagaimana dimaksud dalam Syari’at Islam

 

Memperhatikan :

  1. Paparan para nara sumber dan dialog Talk Show “Menyoal Penggunaan Vaksin Berenzim Babi pada Jama’ah Haji Indonesia”, Jakarta 4 Rajab 1430/27 Juni 2009
  2. Kewajiban Pemerintah melindungi kehidupan umat beragama dalam menjalankan ibadah sesuai Syari’at agamanya sebagaimana termaktub dalam UUD 45 Ps. 29 ayat 1 dan 2.
  3. Keselamatan aqidah kaum muslimin yang ingin menjalankan ibadah Haji terhadap hal-hal yang haram dan syubhat.
  4. Keinginan untuk mencapai haji mambur dengan memenuhi Syari’at Allah dan Rasul-Nya serta bersih dari hal-hal yang syubhat apalagi haram
  5. Perintah Allah dalam Qs. Asysyura 42:37 untuk menjauhi dosa-dosa besar dan segala hal yang buruk (yang diharamkan).
  6. Kewajiban haji bagi seseorang muslim hanya bila terpenuhi syarat-syaratnya secara halal. Maka apabila ada rintangan yang haram untuk melaksanakan ibadah haji maka pelaksanaannya menjadi tidak wajib bagi yang bersangkutan selama rintangan yang haram itu ada.

 

Memutuskan :

  1. Vaksin Meningitis Mencevax ACW135Y produksi PT. GlaxoSmithKline Beecham Pharmaceuticals (GSK) dari Belgia yang dibuat menggunakan enzim Babi pemakaiannya adalah haram.
  2. Bila penggunaan vaksin ini dijadikan syarat bagi jama’ah haji Indonesia maka jama’ah haji Indonesia tergolong orang-orang yang tidak istitha’ah untuk menjalankan ibadah haji (tidak berkewajiban menjalankan ibadah haji) selama dipaksa menggunakan vaksin Meningitis yang berenzim Babi.
  3. Menghimbau para jama’ah haji Indonesia tahun ini untuk menunda keberangkatan sampai diperoleh vaksin Meningitis yang halal seratus persen.
  4. Rekomendasi agar Pemerintah mengadakan pembahasan ilmiah dan syar’iyah (keilmuan dan keulamaan) dengan mengundang para ulama khususnya dari Arab Saudi yang memberikan sertifikasi halal terhadap vaksin berenzim Babi, sehingga dapat memberikan kesimpulan secara benar. Majelis Mujahidin bersama elemen-elemen Islam yang lain siap memberikan kontribusi secara aktif.

 

Jakarta, 4 Rajab 1430 H/ 27 Juni 2009 M

Panitia Penyelenggara

 

 

 

Abu Jundur Rahman, BA, S.Pd.I, MM                         DR. H. Irfianda Abidin Dt.P.Basa

Ketua Pelaksana                                                           Ketua Pengarah

Mengetahui :

Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

 

 

 

Irfan S. Awwas

 

 

 

 

Lampiran 1

 

Nara Sumber Talk Show “Menyoal Penggunaan Vaksin Berenzim Babi pada Jama’ah Haji Indonesia”, Jakarta 4 Rajab 1430/27 Juni 2009 :

 

  1. Menteri Kesehatan RI dr. Fadilah Supari
  2. LPPOM MUI Pusat Dr. Anna Priangani Roswiem
  3. Komisi Fatwa MUI Pusat Ust. Aminuddin Ya’qub
  4. Kepala Badan POM Depkes RI dr. Husniah Rubiana Thamrin, AKIB
  5. Ketua MUI Sumsel Ust. Muhammad Sodikun
  6. Amir Majelis Mujahidin, Drs. M. Thalib
  7. Dirjen Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. Tjandra Yoga Aditama

 

Moderator :

Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, Irfan S. Awwas

 

Tabligh Akbar:

  1. Ust. Muhammad Arifin Ilham (Majelis Adz-Dzikra)
  2. Ust. Abu Muhammad Jibril Abdurrahman (Majelis Mujahidin)
  3. Ust. Abu Sa’ad (Forum Umat Islam)

 

Pemandu :

Ust. Abdusy Syukur (Majelis Adz-Dzikra)

 

 

Acara Talk Show

“Menyoal Penggunaan Vaksin Berenzim Babi pada Jama’ah Haji Indonesia”

Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 4 Rajab 1430/27 Juni 2009

 

  1. Pembukaan oleh Protokol, Shabbarin Syakur)
  2. Tilawatil Qur’an : Abu Jundur Rahman, BA, S.Pd.I,MM
  3. Prakata Panitia : DR. H. Irfianda Abidin Dt.P.Basa (5 mnt)
  4. Talk Show dipandu oleh Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Irfan S. Awwas

Nara Sumber :

  1. Menteri Kesehatan RI dr. Fadilah Supari
  2. LPPOM MUI Pusat Dr. Anna Priangani Roswiem
  3. Komisi Fatwa MUI Pusat Ust. Aminuddin Ya’qub
  4. Kepala Badan POM Depkes RI dr. Husniah Rubiana Thamrin, AKIB
  5. Ketua MUI Sumsel Ust. Muhammad Sodikun
  6. Amir Majelis Mujahidin, Drs. M. Thalib
  7. Dirjen Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. Tjandra Yoga Aditama

 

  1. Kesimpulan dan Rekomendasi
  2. Penutup

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: markasmujahidin | Juni 14, 2009

Pilpres 2009 : Berebut Tahta Fir’aun

Kini, belantara politik Indonesia memasuki tahap baru, pemilihan presiden dan wakil presiden RI periode 2009-2014. Untuk kesekian kalinya, rakyat Indonesia bermimpi, akan datangnya pemimpin baru yang mampu melakukan perbaikan, dan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka melalui pemilu yang jurdil (jujur dan adil). Namun, yang terjadi justru semakin bermunculan manusia-manusia tak tahu malu yang berambisi meraih kekuasaan negara, sekalipun tanpa bekal kenegarawanan.

BETAPA malangnya nasib rakyat Indonesia. Setiap lima tahun sekali, atas nama kedaulatan rakyat, diselenggarakan pesta demokrasi; yang selalu saja dipenuhi kecurangan, akal licik, dan permusuhan. Dari pemilu ke pemilu, tidak ada yang berubah secara signifikan. Mulai dari wajah parpol peserta pemilu yang kian amburadul, prilaku amoral para kandidat, sistem pemilihan maupun aturan pemilu yang penuh kecurangan, hingga isu-isu kampanye, selalu lebih buruk dari sebelumnya.

Kampanye parpol pada pemilu legislatif, 9 April 2009 lalu, hanya berisi jualan isu korupsi, kesusahan, kesengsaraan, dan kemiskinan rakyat. Mereka tidak mampu menawarkan konsep yang kongkret, terukur dan dengan landasan ideologi yang jelas untuk perbaikan Negara. Akibat buruknya, pemilu yang menelan biaya sekitar 40 trilyun dari hasil hutang luar negeri itu hanya menghasilkan anggota legislatif karbitan. Sekitar 30 persen anggota DPR RI 2009, berasal dari  kroni pejabat, artis sinetron, penyanyi dangdut, pelawak, bandar judi, pemabuk, dan mantan koruptor. Perbaikan apa yang diharapkan dari mereka, dan manfaat apa yang bisa masyarakat dapatkan?

Bangsa Indonesia sedang mengidap penyakit parah. Korupsi adalah sumber kejahatan di seluruh dunia. Kerusakan moral, perkelahian pelajar, pembunuhan, orang lemah tidak mendapatkan keadilan, orang miskin hidup dengan beban berat. Sementara, penyalur pornografi, bos-bos judi, penjual narkoba, pengusaha miras, mucikari, justru hidup berpoya-poya dengan kemewahan. Segala bentuk pajak dibebankan pada rakyat untuk menggaji pejabat, membangun gedung pencakar langit, sedangkan orang-orang kaya menghisap darah orang-orang miskin. Semua ini terjadi, karena mayoritas pejabat yang diserahi kendali kekuasaan menempuh jalan sesat dan rakyat terpaksa mengikuti mereka.

Pilpres 2009, memasang tiga kandidat presiden dan wakilnya, dan ketiganya menawarkan kesembuhan dari segala penyakit dengan misi perubahan. Mereka adalah Jk-Wiranto, perpaduan dari pengusaha dan militer, pasangan SBY Berbudi (militer dan birokrat), dan Megapro (Megawati ibu rumah tangga dan Prabowo militer).

Keadaan mereka, ingin berperan sebagai dokter dengan menawarkan perubahan. Padahal obat bukanlah obat jika kondisi pasien sama saja dengan ketika belum minum obat. Perumpamaan bangsa Indonesia hari ini, menggunakan demokrasi pancasila sebagai obat, persis pasien yang minum obat tapi tidak pernah sembuh. Hanya orang tidak waras saja yang meneruskan minum obat, padahal dia tahu tidak akan menyembuhkan penyakitnya.

Pertarungan 3 Jenderal

Jelang pilpres 8 Juli 2009 mendatang diprediksi akan terjadi perang intelijen dari masing-masing pasangan capres-cawapres. Pasalnya, masing-masing pasangan memiliki tokoh militer. Indikatornya, upaya pengendalian mesin dan perangkat (raw material) yang menjadi bahan baku pemerintahan: eksekutif, legislative dan yudikatif, termasuk underbow parpol, sudah terasa.

Sejumlah analisis mensinyalir, terpuruknya partai politik dimata konstituennya pada Pileg 2009 dengan jumlah golput yang cukup signifikan merupakan buah keberhasilan intelijen. Langkah pencitraan buruk sebagai awal pembusukan partai dilakukan melalui anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) jauh hari sebelum digelar Pemilu. Hampir semua parpol besar dan berpeluang dominan seperti PDIP, Golkar, Demokrat, PKB, PAN, PPP dan PBR, ada saja anggotanya yang tersangkut dugaan korupsi yang diajukan ke KPK. Tuduhannya bias macam-macam: melakukan moral harassment berupa penyalahgunaan jabatan, Narkoba dan skandal seks.

Partai yang dianggap cukup alot mengikuti program defeksasi (pencitraan buruk) di arena DPR adalah PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang dalam Pileg meraih suara terbanyak di antara partai berbasis massa Islam. Secara de facto PKS adalah partai yang belum terkena virus ‘perpecahan’ sehingga diperlukan modal politik cukup besar bila dilakukan serangan secara frontal. Maka yang dilakukan adalah pembusukan dari dalam.

Menjelang Pilpres 2009 cara ini agaknya cukup handal, dimulai dari perbedaan pendapat para elit partai menanggapi euphoria kemenangan dengan mengusulkan sederet nama Cawapres dalam amplop ‘tertutup’. Namun dianggap angin lalu oleh induk semang koalisinya (Partai Demokrat)-.

Hingga ketidak puasan para kader partai atas keputusan ‘petualang politik’ dalam menentukan akhir pilihan partai koalisi yang dengan ‘terpaksa’ menerima Cawapres Boediyono yang dikenal track record-nya sebagai ekonom neolib. Bagai lantunan pantun Tifatul Sembiring dalam talk show TVOne berucap:

“Di sana gunung di sini gunung di tengah-tengah ada pohon mangga. Di sana bingung di sini bingung, akhirnya pilih SBY juga,”.

Yang mendapat sindiran pantun berbalas BangOne: “Di sana gunung di sini gunung di tengah-tengah ada pohon kelapa. Di sana bingung di sini bingung, akhirnya PKS dapat apa?”

Operasi politik intelijen yang dimulai dengan infiltrasi, destruksi dan sabotase terus berjalan dengan pola operasi membangun ketidakpercayaan, kebingungan kader partai terhadap elit dan pimpinan partainya. Bahkan kebencian di kalangan kader partai satu sama lain, sehingga muncul istilah PKS Dakwah dan PKS Politik.

Mantan Direktur Bakin (sekarang BIN), DR A.C Manullang kepada detikcom, Senin malam, (1/6/2009), menyatakan:

“Semua kandidat memiliki tokoh militer, seperti SBY, Prabowo, dan Wiranto. Masing-masing akan menggunakan pengetahuan mereka tentang intelijen untuk memenangkan pertarungan di pilpres.”

Dijelaskan Manullang, perang intelijen yang akan dilakukan bukan sekadar
menggunakan metode konvensional, seperti spionase, sabotase, maupun penggalangan massa. Operasi intelijen modern, seperti penyesatan informasi juga akan dilakukan dalam perang tersebut.

Pakar intelijen tersebut menambahkan, adanya operasi intelijen bukan hanya terjadi di pilpres. Dalam pemilu legislatif, April lalu, operasi serupa juga terjadi.

“Melonjaknya perolehan suara Partai Demokrat (PD) merupakan hasil kerja intelijen. Pengendali operasinya adalah mantan panglima TNI Jenderal Purn. Djoko Suyanto melalui tim echo,” ungkap Manullang.

Perang intelijen tersebut, dikhawatirkan bakal menyeret Badan Intelijen Nasional (BIN) dan TNI. Bahkan intelijen Amerika Serikat (AS) saat ini ikut campur untuk memenangkan salah satu pasangan capres-cawapres tertentu.

“Saat ini intelijen asing yang dimotori AS sudah terjun ke lapangan. Mereka berupaya menarik BIN dan TNI untuk mendukung pasangan tertentu,” jelasnya. Ikut campurnya AS dinilai Manullang, bertujuan melancarkan grand strategi global yang mereka usung, yakni neoliberalisme dan Neokapitalisme.

Ketika ditanya siapa capres-cawapres yang sedang ‘dikawal’ intel asing, Manullang mengatakan, mereka adalah pasangan yang selama ini disebut-sebut beraliran neoliberal. “Siapa lagi kalau bukan pasangan incumbent yang selama ini dikatakan beraliran neoliberal,” tandas Manullang.

Pengamat militer lainnya, Asep Sahid Gatara, dari UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta menyatakan: “Sebagai incumbent, SBY itu punya hubungan struktural dengan institusi intelijen negara. SBY akan diuntungkan karena bukan hanya memiliki intelijen non aktif tapi juga bisa memanfaatkan intelijen aktif untuk menyerang kelemahan lawannya,” ujarnya

Menurut Asep, setiap capres itu membutuhkan purnawirawan jenderal untuk menyusun strategi intelijennya. Hal itu tidak bisa dihindari karena memang sistim politik di Indonesia yang telah mengundang pada purnawirawan jenderal itu untuk masuk ke ranah politik.

“Para capres sampai saat ini belum siap tampil tanpa adanya topangan kekuatan dari militer. Dalam sistem itu kan ada struktur dan aktornya. Secara struktur itu telah melibatkan militer dalam politik ditambah lagi aktor dari kalangan sipilnya belum siap tampil tanpa ada para jenderal. Maka itu saat ini capres masih membutuhkan para jenderal,” jelasnya.

Selain mampu menggerakan intelijen aktif, sambungnya, SBY juga memiliki keuntungan karena dapat menggerakkan hati keluraga besar TNI untuk memilihnya pada Pilpres 2009.

“SBY itu adalah jenderal yang paling terakhir pensiun setelah Prabowo dan Wiranto. SBY juga diuntungkan sebagai panglima tertinggi TNI untuk menggerakkan hati secara tidak langsung kepada keluarga besar TNI,” pungkasnya.

Oleh: markasmujahidin | Juni 14, 2009

Irfan S Awwas: Bangsa Ini Harus Berhenti Mengemis

Irfan S Awwas, Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) mempertanyakan keinginan pemerintah Indonesia yang seolah-olah berharap agar presiden Amerika, Barack Hussein Obama mengunjungi Indonesia usai KTT APEC pada November.

Menurut Irfan, meski kunjungan bilateral tersebut dimaksudkan guna membahas sejumlah bidang, seperti politik, keamanan, ekonomi, pembangunan, sosial-budaya, tidak mustahil ada sesuatu di baliknya. Apalagi ditengarai, Amerika akan memberi bantuan dana program Perguruan Tinggi senilai 10 juta dolar AS.

“Dari dulu kunjungan bilateral dilakukan Amerika, selalu ada sesuatu di baliknya,” ungkap Irfan S Awwas, ketika dihubungi http://www.hidayatullah.com

Tidak hanya itu, salah satu tokoh MMI ini juga menyayangkan sikap Indonesia yang masih suka meminta-minta bantuan asing.

“Seharusnya bangsa ini berhenti menjadi pengemis, sudah saatnya bangsa ini menunjukkan bangsa yang berdaulat dan mandiri,” jelasnya.

Menurutnya, pengalaman pahit yang diderita Indonesia akibat ulah Amerika sejatinya cukup menjadi pelajaran. Irfan menjelaskan, mustahil jika Amerika memberikan sesuatu kepada Indonesia tanpa ada udang dibalik batu.

Mengenai hal itu, sebenarnya Islam tidak apriori terhadap Obama jika ingin berkunjung ke Indonesia. Sebab pada dasarnya, Islam selalu terbuka terhadap siapapun. Mengenai Obama yang sudah ekslusif dalam membangun komunikasi terhadap negara Timur Tengah, Irfan masih belum percaya seratus persen.

“Apa yang diucapkan Obama dalam pidato di Universitas Al Azhar Kairo Mesir masih retorika, belum betul-betul terwujud,” terang Irfan. “Obama adalah Obama, Obama bukan Amerika dan Amerika bukan Obama, banyak pihak di belakangnya, dan tidak banyak yang bisa dilakukan Obama,” imbuhnya.

Lebih jauh Irfan menekankan, jika Obama betul ingin menjadi angin surga (The Wind of Heaven) bagi negara Islam, seharusnya ia menjadi seperti raja Najasi yang melindungi umat Islam.

Irfan menjelaskan, Indonesia sebagai Negara mayoritas muslim seyogyanya mempertahankan integritas keislaman. Tidak mudah dibeli. Sebab, jika hal itu dimiliki, maka nilai tawar (bargaining position) umat Islam akan tinggi. Melihat Obama sebagai non muslim, dengan perspektif Al-Quran dibutuhkan kehati-hatian. Jangan mudah terpedaya dengan gerak-geriknya. Sebab, Obama bukan Amerika, dan Amerika bukan Obama, ada banyak orang di baliknya, ujar Irfawn. [ans/www.hidayatullah.com]

Jogjakarta–Dalam peta politik pergerakan Islam sejak zaman penjajah selalu ada pihak-pihak yang tidak senang, lalu mengadu domba dan memecah belah dari dalam maupun dari luar institusi. Intelijen selalu saja melakukan rekayasa politik, membentuk opini sekalipun dengan cara fitnah. Mereka berusaha memperlemah posisi lawan sebelum melakukan tindakan pamungkas melakukan sabotase dengan menghancurkan obyek sasarannya.

Rekayasa politik biasanya dilakukan melalui infiltrasi, baik secara fisik maupun non fisik. Tujuannya, agar terjadi penetrasi sehingga mengganggu keseimbangan dan stabilitas institusi, bahkan merusak variable-variabel kekuatan (destruksi) institusi tersebut.

Belakangan ini berkembang isu palsu dan sampah, disebarkan melalui dunia maya (internet), sebagai upaya menghacurkan institusi penegak syari’at Islam Majelis Mujahidin. Mereka sengaja melakukan infiltrasi moral terhadap aktifis penegak Syariat Islam (black campaign), bahkan disemarakkan oleh para agen amatiran yang bergentayangan di belantara pergerakan melalui short message service (SMS); seakan-akan pimpinan puncak/Amir Majelis Mujahidin Drs. M. Thalib telah mengundurkan diri, dan berseberangan dengan pengurus lainnya.

Anehnya, isu tersebut tidak menyebutkan sumbernya, terkesan omongan / pembicaraan dua orang yang sudah akrab, sehingga nyata bahwa isu itu ditebarkan oleh ‘orang dalam’ . Padahal Amir MM ustadz M. Thalib, tetap komitmen dengan amanah kongres ke 3 MM di Jogjakarta, Agustus 2008 lalu.

“Ustadz M. Thalib baru saja memimpin muzakarah Pleno Ahlul  Halli Wal Aqdi (AHWA), pada 31 Mei  2009 di Markaz Pusat Majelis Mujahidin di Jl. Karanglo No.94 Kota gede Jogjakarta ,” ujar shabarin Syakur selaku Sekjen Majelis Mujahidin Pusat, Sabtu (1/6).

Lalu, bagaimana isu pengunduran diri menyebar sebelumnya, dan dengan maksud apa isu tersebut disebarkan? Apalagi, fitnah terhadap MM, agaknya disambut girang oleh para provokator yang menghendaki terganggunya soliditas internal Majelis Mujahidin.

Namun, seperti kata seorang pengamat asing, “Majelis Mujahidin adalah organisasi tangguh. Berulangkali disusupi intel, bahkan hingga Amirnya Abu Bakar Ba’asyir mengundurkan diri, MM tetap eksis dan bergerak sesuai program yang telah direncanakan.”

Buktinya, usai memimpin muzakarah pleno AHWA, Ustadz Drs. Muhammad Tholib ditanya mengenai tersebarnya isu yang memfitnah MM. Terhadap hal itu, beliau mengeluarkan tazkirah bahwa opini dan isu yang dikembangkan tersebut mengindikasikan  antara lain:

Pertama, menunjukkan kegagalan para petualang gerakan untuk melakukan intrik-intrik dan kasak-kusuk di tubuh Majelis Mujahidin. Kedua, para intel amatiran gampang tertipu, sehingga menjadi jelas pihak dan orang-orang yang menghendaki kehancuran lembaga penegak syariat Islam Majelis Mujahidin dan yang mereka yang tetap loyal dan membelanya selaras dengan komitmen institusi. Ketiga, Secara ideologis Majelis Mujahidin diperhitungkan sebagai penjaga gawang penegak syariat Islam sehingga para musuh yang membenci, melalui tangan agen-agen yang disusupkan berupaya mencari-cari sisi lemah Majelis Mujahidin. Tetapi mereka akan gagal.

Kenyataan ini, hendaknya jadi pelajaran bagi gerakan Islam agar tetap waspada, tidak mudah diadu domba dan tetap istiqamah. Dalam perjalanan jihad di jalan Allah, jangan pernah merasa sendiri; selalu ada makhluk Allah yang akan menemani. Dan, jangan menganggap resiko dan fitnah perjuangan sebagai penderitaan, melainkan proses pendewasan dan penyucian diri di hadapan Allah Swt. Syetan tidak akan berdaya menggoda, kecuali bagi mereka yang mau mengikutinya. (sbr/mm)(Mujahidin Cyber)

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.